Kamis, 26 Juni 2014

Suami "Takut" Istri

Dahulu kala ketika masih membujang saya mempunyai teman kerja yang cukup mempunyai jabatan ditempat dia bekerja, orangnya tegas, gagah, berwibawa. Ketika memerintah dan memberikan arahan ke bawahan dia sangat tegas dan pokoknya luar biasa, pekerja keras, pulang paling akhir, karyawan teladan pokoknya. Suatu ketika saya pulang kantor bareng teman saya ini, lagi asik asiknya ngobrol hapenya berbunyi, serta merta dia ambil hape tersebut setelah dilihat dia memberi kode ke saya untuk diam sambil ngomong lirih, "ibu negara telephon". saya pun diam untuk memberi kesempatan teman saya telephon. Ketika telephone diterima suara temen saya yang biasanya berwibawa tiba-tiba berubah lembut, dengan bilang "iya ma.. halo?". jleg!!! sangat berbeda sekali dengan penampilan dikantor, penampilannya yang sekarang ini mirip sekali dengan anak yang patuh pada ibunya. ketika itu istrinya meminta dia cepat pulang, dan teman saya sangat menurut tanpa banyak memberi argumen, padahal saya sama dia ada rencana mau pergi nongkrong di mall. memang sih banyak yang cerita kalau istri teman saya ini sangar. Saya berpikir, masak sih temen saya ini termasuk suami yang takut sama istri.

sumber gambar : www.quickmeme.com
Pada suatu kesempatan saya main kerumah teman saya ini. saya mampir ceritanya, sesampainya dirumah teman ini saya juga bertemu dengan istri dan anak-anaknya juga. saya lihat tidak ada yang menakutkan atau hal aneh dari istri teman saya ini. Dia tidak tampak seperti Suzanna yang sangat seram ketika acting menjadi sundel bolong atau seperti Farida Pasha yang sangat angker memerankan tokoh Mak Lampir dalam Sinetron Sembara. Yah tampilannya biasa saja, seperti wanita dengan dua anak, orangnya juga ramah. Lha terus apa yang ditakutkan dari istri temenku ini? ah mungkin hanya pikiranku saja, tapi yang aneh ketika saya asik ngobrol dengan teman saya ini, masa istrinya bilang "pah temennya kok gak dibikinkan minum?" eh? loh? nah lo? sampai disini aku kaget, serta merta temenku nawarin minum, dan membuatkan minuman untuk kami berdua sebagai sandingan ngobrol, lagi lagi istrinya bilang, "mas kok cuma minuman, itu kuenya dikeluarin", walah... temenku ya kedapur lagi, pikirku piye toh iki? dari kejadian ini aku langsung menilai temenku adalah anggota ISTI (Ikatan Suami Takut Istri).  karena waktu itu aku masih bujang, aku berfikir suatu saat aku kalau punya istri akan menjadi suami yang tidak takut istri. cita cita yang mulia bukan, wahai para pemuda, camkan itu. semoga istri tidak membaca blog ini, sehingga dia tidak mempersiapkan strategi untuk menindas suaminya ini. "ampun mi... iku isih bojomu...". Akan tetapi yang aneh buat saya ketika itu, teman saya ini kok diwajahnya tidak tampak ada tekanan batin, wajahnya ceria malah kelihatan bahagia, pertanyaan itu terus menjadi pertanyaan besar bagiku. pasti ada sesuatu.

Ketika saya sudah menikah dengan seorang wanita, (yaeyalah.. masak cowok bro tak nikahin). aku masih teringat dengan kisah temenku yang dulu aku pernah main kerumahnya itu, yang aku cap sebagai seorang suami yang takut istri. aku tetep kukuh dengan cita cita semula untuk tidak takut sama istri, kartu anggota maupun buku besar ISTI tidak akan ada namaku, apalagi nomor keaggotaannya sebagai tanda sah menjadi anggota ikatan suami takut istri aku tak mau memilikinya. Bisa-bisa aku jadi pengurusnya nanti, hadeh.. capek deh.

Tapi ternyata cita citaku itu tidak tercapai, sekarang aku mungkin adalah anggota ISTI yang dulu aku berharap tidak mau menjadi anggotanya, jangankan menjadi anggota, memikirkannya pun aku tak berani. Istriku pasti kalau membaca blog ini akan tertawa jahat seperti yang sering ditunjukkan disinetron dengan dubing suara hatinya sedang berbicara "siapa yang menang sekarang hahaha... aku akan menindasmu seumur hidup".

Eits.. jangan salah sangka mas bro, mbak sist. saya memang takut dengan istri, tapi takut saya ini  bukan karena istriku seram atau bagaiman, tapi istriku ini ini kan cantik sekali, jadi ingat film To Liong To (golok pembunuh naga) dimana tokoh utamanya Tio Bu ki, ketika ibunya mau meninggal berpesan "hati-hatilah dengan wanita cantik, semakin dia cantik maka dia semakin berbahaya".  jadi pesan saya untuk mas bro yang takut akan tantangan, menikahlah dengan wanita yang jelek saja. karena wanita jelek tidak akan bahaya. aku jadi berpikir apa mungkin karena istriku cantik ya jadi sangat membahayakan kehidupanku wakaka... "ampun mi... aku masih suamimu". Ya saya takut dengan istri saya, dan ketakutan saya pada istri ini akan saya tulis disini secara ngawur dan amburadul, dan dari situ saya mengerti kenapa teman saya waktu itu cukup takut kepada istrinya. akan saya coba jelaskan sesui dengan pemahaman saya sendiri. kalau tidak terima bikin artikel sendiri saja. (tegas pokoknya). inilah  beberapa hal yang menjadikan saya takut kepada istri.

Saya Takut Menyakiti Hati Istri saya.
wanita biasanya lebih banyak menggunakan perasaan daripada pikiran atau logika, sementara laki-laki lebih banyak menggunakan logika daripada perasaan. Untuk urusan perasan wanita lebih tajam dan pandai menyembunyikannya pula, hal inilah yang menjadi kelemahan para pria, yaitu kurang peka sehingga tidak bisa mengerti perasaan wanita. Pesan saya wahai para wanita, janganlah engkau suka menyembunyikan perasaan, kami kaum pria tidak punya alat detektor perasaan yang setiap saat mengetahui yang engkau inginkan. Dan karena kepekaan ini tidak saya miliki, beberapa kali saya telah menyakiti hati istri saya, yah.. maafkan aku istriku, sungguh aku tak berniat begitu. tapi aku akan tetap berusaha untuk tidak menyakiti perasaanmu lagi. besok lagi ngomong ya, apa yang engkau inginkan duhai istriku.

Saya Takut Tidak Bisa Membahagiakan Istri saya.
Ukuran kebahagian itu apa sih, waduh bingung aku boss.. apalagi aku juga gak pernah tanya apakah istriku ini bahaia atau tidak, ya lagi lagi detektor kebahagiaan saya tidak punya. Dulu waktu pacaran toleransi itu sangat tinggi, kalau ketemu rasanya senang, mungkin senang itu bagian kecil kebahagiaan ya hehe.. contoh yang aneh. Lha sekarang setelah jadi istri lha kok malah ditinggal kerja diluar kota, maksudnya apa ini? hidup yang aneh. Tapi kalau dilihat seharusnya kami ini adalah keluarga yang sakinah karena selalu bersukur dan bersabar, ya tentunya saya sangat bersukur mendapatkan istri yang sangat cantik, sedang istri saya pasti sangat bersabar mendapatkan suami seperti saya. haha.. ya semoga engkau bahagia istriku dengan keadaan kita saat ini.

Saya Takut Menduakan Istri saya
Selingkuh itu adalah hal yang bisa menimpa siapa saja, saya selalu berharap dan berdoa agar hal ini tidak menimpa saya, karena saya tidak mau menyakiti perasaan istri, karena hal ini bisa mengganggu kebahagiaan istri saya. walau mungkin saya suka lihat dangdut koplo apalagi penyanyinya Reza Lawang Sewu, beuh.. #ups? "Ampun umi... aku tetep suamimu... cuma lihat saja kok mi." diluaran sana pasti banyak yang lebih dari istriku, namun bagiku yang paling sempurna menurutku ya istriku toh, pokoke paling ayu bojoku.

perayaan ulang tahun pernikahan perak senior, sumber inspirasi
Beberapa hari yang lalu ada senior dikantor yang melakukan syukuran untuk merayakan ulang tahun pernikahan yang ke 25, ulang tahun perak. WOW!!!! luar biasa... pasti senior saya ini sangat "takut" dengan sang istri tercinta sehingga bisa bertahan sampai 25 tahun lamanya. Ini adalah contoh yang luar biasa, sangat luar biasa malahan menurut saya, selama 25 tahun senior saya ini tidak pernah melambaikan tangan ke kamera untuk menyerah karena ketakutannya. pun begitu, kedua orang tua saya kalau dihitung sudah 36th menjalani pernikahan dengan ibu saya, pastinya ayah saya juga sangat ketakutan pada ibu saya ya.. "saya ikut prihatin pak, yang sabar ya pak". Bayangkan 36th bersama dan tidak terjadi apa-apa coba. luar biasa. aku salut denganmu bapak, walau takut namun tetap setia menjalaninya dengan iklas. arep tak conto pokoknya.

Diusia Perkawinan saya yang baru menginjak tahun ke 4, nampaknya saya harus belajar dari senior dan bapak saya bagaiman lebih menghayati rasa takut kepada istri, agar bisa tetap menjaga amanah ini, dan tetap harmonis dalam kehidupan rumah tangga. 
Takut Istri bukanlah sesuatu yang hina, jika takut kepada istri adalah hina, mungkin saat ini aku sudah dibuang jauh-jauh, diasingkan dan dikucilkan dalam kehidupan masyarakat.

Siapa mau bergabung dengan Ikatan Suami Takut Istri???


Rabu, 25 Juni 2014

Jangan Takut "Tersesat"

Dalam Kehidupan ini hampir pasti kita sebagai manusia pernah tersesat. walaupun sekali pasti kita pernah mengalaminya. Banyak ungkapan yang sering kita dengar berupa nasehat dari orang yang lebih tua, mereka selalu bilang "hati hati ya, jangan sampai tersesat". Nasehat orang tua itu sedikit banyak pasti ada benarnya, mungkin juga karena mereka pernah tersesat juga ya waktu muda #eh? tapi ketika tersesat mereka bisa kembali, sehingga bisa memberikan nasehat kepada kita yang lebih muda untuk tidak mengikuti jejak mereka untuk tersesat.

Sumber gambar : yukpeqi.com
Banyak yang menyarankan kita jangan sampai tersesat, tapi pernahkah kita berpikir kenapa? #sokkritis. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan ketika seseorang itu menyarankan kita jangan sampai tersesat. Mungkin saat tersesat kita akan bertemu mahluk yang mengerikan, naga misalnya, yang akan menyemburkan api dan membumi hanguskan raga kita, kalau ketemu naga sih jangan takut, kan sudah ada tutorialnya bagaiman melatih dan menjinakkan naga di film How Train to Your Dragon. Atau mungkin saat tersesat kita ketemu debt collector yang galak, mungkin tersesat model ini yang membuat kita menjadi takut untuk tersesat. Tapi bagaimana jika saat tersesat kita menemukan bidadari, taman buah dan bunga yang indah, sungai megalir ditengahnya, udara sejuk dan penduduk yang ramah? nah lo.

Dalam Tulisan ini bukan hayalan, tapi mungkin sedikit pencerahan saja walau sedikit dipaksakan, tersesat kok dinamakan pencerahan. setidaknya saya mencontohkan apa yang saya alami, bukankah pada artikel Piknik ke Kali  adalah piknik yang tidak di sengaja karena tersesat jalan. Namun disini saya tidak menganjurkan untuk tersesat dalam artian yang negatif, karena tersesat pemahaman bisa berbahaya lho. kalau cuma tersesat jalan kita bisa putar balik kan? apalagi kalau tersesat dan tak tau arah jalan pulang, aku tanpamu butiran debu #halah.

Untuk mengetahui tersesat itu adalah suatu hal positif tentunya karena kita sebelumnya mempunyai tujuan, dalam mencapai tujuan kita terkadang bisa mengambil jalan yang salah. ini hendaklah menjadikan pelajaran, menjadi rambu petunjuk supaya jangan sampai salah arah lagi. Sebagai contoh, dulu saat masih sekolah tujuan utama kita adalah memperoleh hasil nilai yang baik di raport atau ijazah. Jalan yang benar harus ditempuh adalah kita banyak belajar, membaca buku dan latihan mengerjakan soal. Namun ada kalanya kita tersesat dalam mencapai tujuan itu, yaitu dengan cara membuat kepekan atau contekan. Tujuan mendapat nilai bagus mungkin tercapai akan tetapi tentu saja hal ini membawa resiko, tujuan kita tercapai akan tetapi jalannya salah. karena kita sudah tidak jujur dan menipu diri kita sendiri, kita tidak dapat ilmunya, hanya nilai di ijazah atau rapor saja. Untuk tersesat yang model ini saya tidak menyarankan dan menganjurkan, paham? karena ini sebenarnya bukan tersesat, namun menyesatkan diri.

Jangan takut tersesat adalah motifasi yang di pakai apabila kita tanpa sengaja mengambil jalan atau cara yang menurut orang salah namun kita malah menemukan hal baru. Tersesat akan bisa menjadikan diri kita lebih baik dari sebelumnya, jika kita mau belajar dan menjadikan ketersesatan ini sebagai rambu pengingat. Jika ketersesatan kita ini berdampak buruk kita bisa menyarankan orang lain agar tidak ikut ikutan, tapi jika malah menjadikan lebih baik maka wajib kita tularkan. kira kira hal inilah yang saya maksudkan.

Saat kita tersesat dan bisa kembali, kita akan bisa bercerita apa yang kita alami. Jika kita menemukan sesuatu yang baik tentunya bisa kita bagikan hal baik tersebut kepada orang disekitar kita, namun jika suatu hal baru tersebut merupakan sesuatu yang sifatnya negatif, misalkan jalan yang kita lalui melewati hutan, jalanan rusak dan sebagainya, kita juga bisa ceritakan agar yang lain tidak melalui jalanan tersebut. Bukankan pengalaman adalah guru yang terbaik untuk kita. untuk itu, saat mencapai tujuan, jangan takut tersesat, jika sebelum jalan kita sudah berfikir dan takut salah jalan, maka kita tidak akan pernah kemana mana dan tidak akan pernah sampai pada tujuan tersebut. 
"Tidak tau jalan untuk mencapai tempat yang baru itu hal yang lumrah, akan tetapi kita tidak akan pernah tau jalan yang kita tempuh itu benar atau salah jika kita tidak tersesat."

Jangan takut tersesat, karena tersesat itu banyak pelajaran yang bisa kita petik


Kamis, 19 Juni 2014

Miniatur Kehidupan Lapangan Sepak Bola

Hingar bingar sepak bola piala dunia 2014 dibrazil sudah menghipnotis pecinta bola seluruh dunia. Pertandingan demi pertandingan dipertontonkan dan disaksikan langsung para pecinta bola tersebut, yang mampu ke stadion bisa menyaksikan secara langsung, dan yang tidak mampu ke stadion masih bisa dimanjakan dengan penayangan ditelevisi baik itu langsung maupun siaran tunda. Dari hingar bingar piala dunia ini pun ada yang skeptis terhadap olah raga ini, mereka juga cuek atas perhelatan akbar yang konon dananya menghabiskan trilyunan. Dalam tulisan ini saya tidak akan mengulas tentang piala dunia tersebut. Saya pribadi adalah penikmat sepak bola akan tetapi bukan pecinta atau penggila olah raga ini. Dari sekian penikmat bola mungkin berpikiran bahwa dalam stadion sepak bola banyak sekali drama, yang mencerminkan kehidupan manusia, saya hanya salah satu bagian kecil yang melihat dari sisi itu. oke, mari kita ulas pandangan saya tentang miniatur kehidupan dari lapangan sepak bola.

sumber gambar : clazzico.blogspot.com
Untuk membahas kehidupan mungkin saya masih terlalu hijau untuk itu, pengertian hidup bagi saya juga masih dangkal. tapi dalam tulisan ini saya hanya merefleksikan sedikit dari pengetahuan saya tentang kesamaan apa yang terjadi didalam sebuah pertandingan sepak bola dan sebuah turnamen yang namanya piala dunia dengan kehidupan nyata manusia sejak dia dilahirkan, dan tentang tujuan hidup ini. sekedar hidup untuk hidup, atau hidup mencari pengharapan dan cita cita. Mempercayai takdir, tentang berusaha merubah nasib, dan tentang mensyukuri apa yang sudah diusahakan serta yang diberikan Tuhan kepada kita.

Saat dimulainya sebuah turnamen atau pertandingan, kita melihat genggap gembitanya suasana, semua hati senang bahkan dalam stadion yang tampak yel-yel kegembiraan, mulut tersenyum bahkan terlawa lebar menunjukkan barisan gigi tanpa ragu. (tak perduli gigi miji timun ataupun mrongos dan tonggos), semuanya gembira, tak sabar menyaksikan segera dibukanya pertandingan pembuka. semua menyanyi, gembira tak ada rasa duka sedikitpun. Gambaran ini seperti ketika bayi lahir kedunia, semua gembira, doa, harapan, cita-cita. semua yang baik kita sematkan pada bayi tersebut. Orang tua bayi pun tak ragu mengeluarkan dana besar untuk acara syukuran sang bayi. ini berita gembira, saudara, kerabat, handai taulan, dan tetangga bergembira, doa juga mengiringi atas kelahiran bayi ini. semua harapan yang baik baik didoakan untuk sang bayi.

Ketika turnamen sudah dimulai, kadangkala sesuai prediksi team yang bagus dengan mudah meraih kemenangan ada kalanya pemenang turnamen adalah team yang biasa saja. Disini kita bisa melihat bahwa kualitas seseorang bisa menjadi penentu kesuksesan, namun ini tidaklah mutlak, karena dengan kualitas biasa kita bisa lebih sukses dari orang yang secara garis keturunan luar biasa. semua ditentukan oleh masing masing usaha kita bagaimana mencapai cita cita tersebut. tidak ada yang sia sia apa yang kita lakukan, saat kita berusaha namun hasil yang kita peroleh belum sesuai dengan harapan jangan berhenti untuk terus berusaha, karena nasib kita akan berubah berdasar pada usaha kita mencoba untuk merubahnya. Saat team dengan kualitas bagus menang pasti kita berpikir itu hal biasa, coba jika yang menang adalah team dengan kualitas biasa yang menang, pasti akan menjadi luar biasa. padahal usaha mereka sama, team yang satunya didukung dengan kualitas, namun yang menang adalah team yang biasa saja. Itulah yang namanya takdir Tuhan. Kita hanya diwajibkan berusaha, selebihnya Tuhanlah yang menentukan keberhasilan kita.

Dalam permulaan sebuah pertandingan sepak bola kita melihat semua pendukung masing masing team berharap dengan harapan yang sama, yaitu kemenangan. Ketika salah satu team membuat goal kegawang lawan, maka para pendukungnya akan serta merta gembira, begitu pula para pemain dan pelatihnya, team yang satunya akan sedikit terguncang, para supporter pendukung mereka juga akan ikut sedih dan kecewa, karena team yang mereka dukung kebobolan oleh goal lawan. Kehadiran pelatih disini sangat berperan, kecerdasan dan pengalaman dalam meracik setrategi sangat dibutuhkan, untuk menjaga kemenangan, sedangkan team yang tertinggal skornya berusaha membalik keadaan supaya menang. Coba lihat yang terjadi, ketika team yang semula diprediksi kalah tiba-tiba bisa membuat gol penyama, bahkan sekaligus membuat gol tambahan untuk kemenangan. suporter yang tadinya tertunduk lesu tiba tiba sumringah, malah sebaliknya, suporter yang tadinya sumringah menjadi tertunduk sedih, bahkan ada yang menangis.

Kondisi seperti diatas saya menggambarkan dalam roda kehidupan, menjalani sesuatu jangan cepat jumawa, berhati hati melangkah, dalam istilah jawa OJO DUMEH, maksudnya tetap merendah walaupun kita dalam kejayaan, apapun kejayaan itu kita harus tetap membumi. Adapun seorang pelatih, saya mengibaratkan sebagai kepala keluarga, yang menjadi pendorong semangat, mengarahkan keluarga kepada tujuan dan martabat yang tinggi. tampil membangkitkan semangat tatkala terperosok. maju dan terus mendorong anggota keluarga untuk tetap tegar menjalani hidup. Sementara suporter bagi saya adalah orang yang dilingkungan kita, yang memperhatikan gerak gerik dan tingkah laku kita. yang senang dengan kita akan selalu memberi semangat yang baik, begitu pula yang tidak suka, akan senantiasa mencemooh apapun yang kita lakukan.

Dalam pertandingan sepak bola, ada yang namanya komentator, tugas komentator biasanya menyampaikan jalannya pertandingan dan memberi masukan sebagaiman seharusnya. Dalam kehidupan nyata komentator ini saya anggap sebagai sesuatu kritikan dari seseorang yang bisa meluruskan kita. jangan menutup telinga terhadap kritikan, karena bisa membuat kita lebih baik, dan selalu mencoba lebih baik. jangan pernah mengabaikan kritik, karena kita sebagai manusia, tidak akan pernah bisa melihat punggung kita sendiri tanpa dibantu sebuah kaca.

Selain unsur pemain, pelatih, penonton, dan komentator tidak kalah penting adalah wasit, wasit ini adalah pemegang kendali aturan bermain sesuai dengan aturan yang dibuat dalam sepak bola. Wasit saya ibaratkan sebagai penegak hukum, aparat yang menjadi pengendali, semua keputusan ada ditangan wasit, tujuannya adalah agar permainan sesuai dengan aturan. dalam tugasnya wasit dibantu oleh dua penjaga garis, ini juga saya ibaratkan, penegak hukum tidak bisa bekerja sendiri, harus ada yang membantu untuk mengawasi jalannya penegakan keadilan. Kita hidup bermasyarakat harus senantiasa hidup sesuai aturan, norma, dan undang undang, agar kehidupan kita nyaman, tentram dan tidak tersandung dalam masalah yang merugikan bagi kita.

Dalam mencapai kemenangan dalam turnamen dibutuhkan persiapan mental, tehnik, dan latihan, ketika dalam pertandingan juga dibutuhkan perjuangan keras agar team yeng dibela tetap dijalur kemenangan. Begitu pula kita, dalam hidup harus ada tujuan, percaya kepada teman disekitar kita, tidak egois mau mendengarkan apa kata orang yang lebih berpengalaman. jangan gampang menyerah, persiapkan diri untuk mengarungi kerasnya jalan untuk mencapai tujuan hidup itu.

Setidaknya itu sedikit filosofi, atau pandangan dari penilain saya tentang miniatur kehidupan di lapangan sepak bola, mungkin masih banyak lagi pandangan atau penilain yang berbeda. tapi ini hanya sedikit yang bisa saya tuliskan. untuk instropeksi diri sendiri, dan mungkin pembaca yang kebetulan menemukan dan membaca blog saya.


Rabu, 18 Juni 2014

Kesetiaan Bathok Kelapa

Bathok dalam bahasa jawa atau tempurung kelapa kalau dikota hanya dianggap sampah saja, pun begitu didesa, tempurung kelapa ini sekarang juga sudah menjadi sampah saja. dahulu sebelum ada gas, tempurung kelapa bisa dijadikan bahan bakar untuk memasak seperti kayu, bahkan arang kelapa lebih bagus nyala apinya ketimbang arang kayu biasa. Bahkan jaman dahulu bathok kelapa bisa digunakan sebagai alat takar beras, jagung, kedelai, alat takar ini biasa disebut beruk. bisa juga dibuat gayung atau siwur. dibuat untuk enthong, gelas penjual jamu dan lain lainlah pokoknya. Banyak sekali manfaat dari bathok kelapa pada jaman dulu, tapi sekarang setelah orang mengenal biji plastik, pengrajin tempurung kelapa semakin sedikit. selain membuatnya susah, harganya juga murah, biasa.. pada diganti menjadi plastik semua. wis kalau mau lihat hasil kerajinan tempurung kelapa googling saja deh, wis akeh.. mberuh kata orang pati jawa tengah. mbludag saking banyaknya.

Cerita kali ini tidak membahas tempurung kelapa itu mau dijadikan apa, karena sudah banyak sekali blog yang bercerita tentang  merubah sampah tempurung kelapa menjadi barang yang berguna atau kerajinan tangan yang bisa digunakan untuk hiasan rumah. Tapi saya akan menceritakan tentang kesetiaan bapak saya. Lho apa hubungannya batkok kelapa dengan kesetiaan bapak saya??? Bapak saya ini orang yang sangat setia dan sangat mencintai keluarganya, sampai apapun dikerjakan untuk keluarganya. dan kesetiaan bapak itu berlaku juga kepada semua barang yang menjadi miliknya, entah itu sepatu, sandal, baju, motor, mobil, burung, wis semua yang merasa itu milik bapak maka bapak akan mencintainya dengan sepenuh hati. pokoknya ora kui mending ora.

Cerita ini sudah lama banget (haha blog masa lalu, ceritane lawas kabeh), wong waktu itu aku masih kuliah kejadiannya. Jadi pagi itu diwarung baksonya bapak dan yang menjadi rumah tempat tinggal, aktifitas sehari hari itu sama saja, pagi aku ngepel warung, bapak biasa nyuci dandang bakso, ibu pergi kepasar untuk membeli bahan bakso dan perlengkapan lainnya untuk dijual. Tapi pagi itu agak beda dari biasanya, bapak mendapat pesenan membuat es puter, karena aslinya dulu bapak kan penjual es puter keliling, maka kegiatan mencuci dandang agak ditinggal. aku juga disuruh membantu muter es, wong kuliah siang jadi pagi nganggur. tapi pagi itu terlihat semua orang sangat repot sendiri pokoknya.

Kegiatan ibu tetep pergi kepasar, biasanya setelah pulang dari pasar belanjaan langsung dipisah sesuai posnya, sawi sendiri, adonan bakso sendiri, bapak biasanya membuat bakso itu setiap hari makanya sebelum ibu pulang dari pasar, dandang harus sudah dicuci. karena ngepel sudah kuselesaikan sekarang aku bantu bapak membuat es puter, terus bapak ngomong sama aku "ko iki puter dobel bapak tak ngumbah dandang" (ko kamu putar dobel bapak mau nyuci dandang). langsung saja aku muter doubel esnya dan bapak langsung beranjak untuk mencuci dandang. setelah dandang diangkat ditepat cucian bapak malah muter-muter keliling kaya orang bingung terus tidak segera mencuci dandang. tak lihatin semakin serius wajahnya, tak tanya akhirnya.

A : "goleki opo to pak?" (nyari apa pak?).
B : " koe weruh batok sing biasane ora?" (km lihat batok yang biasanya)
A : "Lha biasane yo ono kono pak." (lha biasanya disitu pak)
B : "Ora ono, mesti ibumu iki" (tidak ada, pasti ibumu ini)
A : "Lha mbok nganggo siwur kui wae to pak opo bathok iki yo ono" (coba pakai gayung atau batok lain pak)

aku mencoba menyarankan, tapi bapak diam saja dan masih tampak sibuk mencari "bathoknya" yang hilang, dan wajahnya masih tampak serius banget.
Sampai ibu pulang bapak masih mencari "bathoknya" yang hilang, dan ibu melihat dandang kok belum dicuci. tapi sebelum ibu ngomong apa-apa bapak mendahului dengan pertanyaan yang langsung to the point.

B : "Bathok-ku mbo guwak bu?" (bathok-ku kamu buang bu?)
I : "Bathok opo to pak, lha iki akeh bathok?" (bathok apa to pak lha ini banyak bathok)
B : "Ora bathok sing iki sing biasane" (bukan batok yang ini, yang biasanya)
I : "Bathok kan podo wae iki malah apik" (bathok kan sama saja yang ini malah bagus)
B : "Ora, mesti mbok buang bathok-ku" (tidak, mesti dibuang batok-ku)
I : "Embuh pak, aku mau ngresiki sah-sahan batok elek elek tak buang kali" (tidak tau pak, tadi aku membersihkan cucian bathok yang jelek-jelek aku buang kekali.)

setelah mendengar jawaban ibu, tanpa banyak bicara bapak langsung pergi saja, aku tidak tau kemana perginya. tapi tau tau bapak bawa tangga bambu meminjam tetangga, wah buat apa tuh tangga pikirku. ternyata bapak langsung meletakkan tangga untuk turun kekali mencari "bathoknya" yang hilang. dan ketemu. sesaat aku sama ibu saling pandang dan diam saja, setelah mengembalikan tangga bapak kembali kerumah dan langsung ngomong, "yen dudu duweke ojo buang sembarangan" (kalau bukan punyanya jangan buang sembarangan). "suk neh omong yen arep buang bathok" (besok lagi bilang kalau mau buang bathok)

setelah kejadian itu bapak langsung nyuci dandang seperti biasa, aku meneruskan saja muter es. penasaran dengan "bathoknya" bapak, setelah aku selesai muter es aku bertanya sama ibu.

A : "ndi to buk bathoke bapak?" (mana bu batoknya bapak)
I : "Lha iki wong bathok elek ngene digoleki tekan kali" (lha ini batik jelek dicari kekali)

yah menurutku sih memang jelek, tapi tidak tau bapak kok bisa tergila gila dengan bathok itu, wis jan bapak ku yang setia. semua hanya rahasia bapak yang tau. oh seandainya para koruptor itu memiliki kesetiaan seperti bapak untuk tidak melakukan korupsi bangsa ini mungkin sudah menjadi bangsa yang makmur adil merata. haha ranyambung, sik penting ngayal

menilai sesuatu barang memang tidak bisa dilihat hanya dari bentuknya, kita tidak akan tau sejarah barang atau apapun bagi seseorang sehingga barang tersebut menjadi sangat bernilai bagi seseorang. Seperti halnya pasangan hidup, saat kita memilihnya pasti ada sesuatu yang istimewa di dirinya sehingga kita memilihnya untuk mendampingi kita, tentunya kita tidak asal comot untuk kita pilih, apapun itu hanya kita yang tau. Kesetiaan yang di pertontonkan oleh bapak cukup sederhana, hanya sebuah bathok, tapi nilai yang terkandung didalamnya menurutku luar biasa, maturnuwun pak memberi contoh kesetiaan gratis tanpa dengan banyak kata, tapi langsung dengan tindakan.

Selasa, 17 Juni 2014

Ketika Musikmu Adalah Deritaku

Musik bagi sebagian orang dapat digunakan sebagai sarana penghibur diri, pencari inspirasi, penenang jiwa, pengembali mood yang hilang dan lain sebagainya. Kalau membahas musik pasti banyak yang setuju bahwa kadang dengan musik kita tau karakter orang itu seperti apa. Yang suka Jazz dia merasa berkelas, yang suka Dangdud koplo pasti senengnya kumpul dikeramaian, orgen tunggal saja pasti dia joged haha.... itu sebagian kecil, bagian yang besar silahkan definisikan sendiri sesukamu, silahkan monggo rabayar kok. Tapi bagaimana jika musik malah menjadi sumber derita, membikin perut mual, mata berkunang-kunang, bibir pecah-pecah dan susah buang air besar... ah itu gampang mas.. minum saja larutan penyegar. haha..

Tinggal ngekost dengan banyak macam karakter orang memang dituntut banyak sekali toleransi, tepo seliro, tenggang rasa. Tapi apa jadinya jika aturan yang tak tertulis itu dihianati dengan pelanggaran yang diluar toleransi? Wah ini namanya penghianatan terhadap konstitusi dalam bertetangga, harus diberantas, dilibas dan dihancurkan, yah itu hanya berani kulakukan ditulisan ini saja... huh!!!! ampunkan aku yang lemah ini hahaha..

Tulisan ini tercetus dari kejadian yang kualami sendiri, yah memang paling enak menulis kebenaran yang setidaknya sumbernya adalah diri kita. soalnya dalam menulis kita bisa seolah olah menjadi orang yang benar sendiri, yang lain salah, dan akulah orang yang paling bijak di muka bumi ini... hahaha (acting congkak). Pulang kerja sehabis lembur sampai larut adalah istirahat di kost, tidur nyenyak agar besoknya seger untuk memulai aktifitas kerja lagi. Namun kejadian semalam adalah diluar angan angan yang indah itu.

Malam sudah hampir mendekati tengah malam, soalnya sudah jam setengah sebelas malam dikantor tinggal berdua saja dengan boss. saat itu juga hujan, mau pulang kehambat hujan, setelah hujan reda barulah pulang karena kost juga sangat dekat dari kantor. Dengan badan letih berjalan gontai menuju kost, pas masuk gerbang kost sudah sepi, naik kelantai atas terdengar musik dengan lantunan tembang lawas macam nike ardila, poppy mercuri, nafa urbach (ngeriii.. semua sudah almarhum), ada juga ella, nicky astria, inka cristy, semuanya artis lawas, tetangga kostku ini memang hobi tembang lawas, walau dalam list lagu yang dia putar ada juga kotak, fatin, judika, raisa, tapi lagu yang diputer itu itu saja, sampai hapal aku urutannya.

Begitu masuk lorong, musiknya ini ternyata cukup keras, apalagi kamarnya sebelahan persis dengan kamar kostku. dan kulihat kamarnya kuncinan gembok, berarti tidak ditempat orang ini... bajigur!!!! kampret!!! ini musik auto play, sampai pagi nih kemungkinan. aku langsung membuka pintu dan masuk kamar, hilang sudah angan-angan untuk langsung bisa tidur dan beristirahat dengan tenang.

Karena badan memang sudah letih, kucoba rebahan saja siapa tau bisa tidur, tapi ternyata tidak bisa juga, malah kepala semakin pusing, suara lantunan lagu yang biasanya merdu malah bagaikan tusukan ribuan jarum menusuk gendang telingaku. Kalau aku punya cangkang kaya kura-kura sudah masuk aku kedalam cangkang itu, biar kusendiri dalam sepi pengen tidur sampai pagi. Tapi ternyata hayalanku tidak membantu juga, dan siksaan itu belum reda juga, wis jan bener-bener Bajigur ini. untunglah penderitaan ini tidak berlangsung lama, sekitar satu setengah jam kemudian yang empunya kamar pulang dan segera mematikan musiknya. Alhamdulillah... bisa tidur.

Penggalan kisah ini hanya sebagai instropeksi diri juga, bahwa dalam bertetangga aturan tak tertulis ini sangat perlu kita jaga, kalau kita tidak peka mungkin suatu saat kita bukan menjadi korban, tetapi pelaku pelanggaran norma bertetangga ini. Semoga kita menjadi orang yang bisa menghargai toleransi, tepo seliro dan tenggang rasa, aamin. Waspadalah... waspadalah... waspadalah.

Siapa Calon Presidenmu

Pilpres atau Pemilihan Presiden langsung 2014 diindonesia kali ini sangat riuh dimasyarakat, baik itu di media sosial, atau dimasyarakat langsung secara umum. Pilpres kali ini sangat unik dari pilpres tahun-tahun sebelumnya, soalnya dari putaran pertama hanya ada dua calon yang langsung memperebutkan kursi presiden. kedua nama tersebut adalah Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto. Prabowo dalam pilpres kali ini bernomor urut satu, dengan calon wakil presidennya Hatta Rajasa, sedangkan Jokowi bernomor urut dua dengan calon wakil presidennya Jusuf Kalla.

sumber : google.com
Kedua Capres-Cawapres tentu saja memaparkan visi misi untuk memajukan bangsa ini. Dalam upaya menarik simpati rakyat.  Dalam mengkampanyekan visi-misi, kedua capres didukung pula oleh para anggota partai yang menjadi mesin politik untuk meraih kemenangan dalam pilpres nanti.

Dalam hingar bingar kampanye untuk pilpres, para pendukung dari masing masing capres banyak sekali mengeluarkan pujian khusus untuk pasangan calon presiden dan wakil yang didukungnya, namun sering sekali melontarkan serangan untuk kubu calon presiden dan wakil presiden yang menjadi lawannya di pilpres nanti. Ternyata efek dan euforia dari pipres ini turut dirasakan langsung oleh rakyat Indonesia. Tiba-tiba banyak komentator dan politikus dadakan dimasyarakat. tak jarang pula ungkapan miring dan menghina personal dikeluarkan oleh pendukung kedua calon.

Untuk berita penyerangan masing masing kubu dapat dengan mudah kita temukan, karena banyak sekali terdapat diforum forum dan media massa, baik itu media cetak, atau media sosial lain yang ada diinternet dan televisi. Yang ingin saya kemukakan dalam benak saya ini adalah, dihingar bingarnya pilpres ini bamyak dari kita yang lupa jatidiri masing masing. siapa sebenarnya kita, dan peran apa kita selama ini dimasyarakat. namun dengan mudahnya banyak dari kita menyerang secara personal membuly yang bukan pada tempatnya. Padahal pilpres adalah adu visi dan misi yang bertujuan untuk memajukan bangsa Indonesia dari sisi manapun. lha kok malah menhina dan merendahkan calon pemimpin kita tanpa melihat bahwa kita ini belum ada apa apanya jika dibanding mereka.

Jika akhirnya saling serang dan menghujat yang bukan merupakan visi misi, tetapi saling hujat untuk menjatuhkan lawan yang sering berupa fitnah dan hinaan, dalam benak saya tidaklah perlu ada pilpres secara langsung. Kejenuhan yang saya rasakan ini mungkin banyak dirasakan pula oleh yang lain sebagai rakyat biasa yang suaranya tidak pernah didengar, namun hanya dibutuhkan saat pilpres dan pemilu saja. ini hanya pemikiran logis, kita mencari calon presiden dan wakil untuk mensejahterakan rakyat dan memajukan negara Indonesia. Bukan memilih tokoh kemudian kita hujat rame-rame. Dengan sistem demokrasi sekarang, sudah pasti nanti salah satu dari kedua calon ini akan memimpin bangsa ini. Apa tidak malu kita menghina dan merendahkan calon pemimpin bangsa ini.

Para pendukung pasangan capres-cawapres dielit politik, coba gunakan hati kecil kalian, contohkan kepada kami rakyat ini cara berpolitik yang santun, jangan contohkan kami cara bermusuhan untuk membuat kubu-kubuan dan saling serang satu sama lain. Bukankah apa yang kalian ucapkan itu nanti ada pertanggung jawabannya kelak di akherat, bukan bermaksud menggurui atau menghukumi para politisi di elit sana. tapi rakyat ini perlu diajarkan tatacara berperilaku yang baik, kami tidak hanya butuh pemimpin saja, tapi kami butuh pemimpin yang bukan sekedar pandai tapi baik juga dalam tingkah lakunya.

Sebagai rakyat biasa, kami ini tidak punya pilihan, siapapun yang disuguhkan kita disuruh memilih. setelah memilih, secara signifikan kita ini tidak ada perubahan, maksudnya, yang petani kembali bertani, pedagang kembali berdagang, nelayan kembali melaut, buruh kembali bekerja, orang kantoran kembali dimaki-maki boss, "saya rela kok memilih maling misal calon yang diajukan ini maling semua, tapi salah satunya adalah paedofil. lebih baik dipimpin oleh maling saja yang keburukannya kita ketahui, paling nanti barang kita yang dicuri, tapi kalo maling itu paedofil mungkin akan membahayakan bagi anak anak kita kan, sudah barang kita hilang dicuri, ditambah lagi anak kita disodomi." (kutipan dari abul-jauzaa.blogspot.com, dengan redaksi saya saendiri) nah dari sini cobalah mengerti, siapapun pemimpinnya kita ini hanya orang biasa. mau milih silahkan, siapa saja pilihanmu tidak ada yang melarang, yang saya sesalkan adalah kenapa kita harus terpecah, saling hujat hanya untuk pilpres yang tidak mengubah secara signifikan kehidupan kita.

Menghujat dan memaki adalah gampang, kalian yang mati matian membela salah satu pasangan calon, coba pikir sekali lagi, kalau calon kalian tidak menang apa kalian mau pindah negara? atau bunuh diri? atau jadi teroris?. Nantinya kalian juga akan tetap dinegara ini kan? jangan sempitkan pemikiran harus ini kalo tidak ini mending tidak. ayolah mari kita dukung negara ini untuk lebih baik, bukan saling serang, saling hujat yang hanya akan menimbulkan perpecahan bangsa, malu kita sebagai satu keluarga besar malah saling berperang. tidak cukupkah kehancuran Majapahit menjadi contoh bahwa negara besar hancur oleh perang saudara, tidakkah cukup 350th bangsa kita dijajah hanya oleh negara kecil belanda yang di Eropa sana adalah negara miskin pada waktu itu. Wahai saudaraku, bersatulah, tak perduli presiden yang terpilih ini nanti kurus apa gemuk, bisa naik kuda atau tidak, bekas militer atau bukan, yang penting jangan saling serang hujat menghujat agar hidup kita damai dan negara ini menjadi negara yang adil , makmur, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharjo, seperti yang diidam idamkan pendiri bangsa ini dan rakyat jelata seperti saya ini. Siapapun pemimpinnya kalau tujuannya mensejahterakan rakyat wajib kita dukung.



Senin, 16 Juni 2014

Makanan Termahal Didunia

Ilustrasi Mie Kopyok. sumber: google.com
Makanan ini terdiri dari mie kuning, toge kacang hijau, yang direbus kemudian dikocok kocok. bahan utamanya hanya itu saja, terus penyajiannya ditambah irisan tahu pong, remesan krupuk karag, irisan daun seledri, bumbu bawang putih yang dilarutkan diair dicampur garam, kasih kecap terus ditaburin dengan bawang merah goreng. dan jadilah mie kopyok. kalau mau pedhes tinggal tambah cabenya.

Disemarang makanan ini sangat nikmat, apalagi dimakan siang siang, bisa juga ditambahkan lontong. mungkin karena udara semarang yang suhunya lumayan panas, maka makanan jenis ini terasa seger dan nikmat.

Mie kopyok ini sejatinya adalah makanan murah meriah. Tapi kenapa tiba tiba makanan ini bisa menjadi makanan yang mahal didunia???? yah ini mungkin karena pengalamanku saja, sebenarnya sih ya tidak mahal mahal banget, cuma untuk ukuran mie kopyok harganya kelewat mahal. sehingga aku menyebutnya makanan termahal di dunia.

Awal mula penyebutan makanan mahal ini begini... ehm.... pada suatu hari. Seingatku hari itu adalah hari minggu, lha wong wis suwe... (sudah lama cerita basi lagi) haha.. rapopo sik penting hore!!!. minggu yang panas, istri juga baru hamil muda anak pertama. angin kering berhembus mendaki bukit manyaran, kampung candi pawon sepi.. mungkin karena panas terik, para orang tua juga melarang anak anaknya bermain diluar. aku, istriku, dan ibu mertua lagi asik ngobrol ketika tiba tiba terdengar suara piring di pukul pakai sendok. suara itu begitu khas ketukannya, sumber suara berasal dari jalan depan rumah. ting..ting..ting..ting..ting..

Kami langsung saling pandang satu sama lain, dalam benak kami tanpa berbicara pun langsung sepakat kalau itu adalah suara penjual mie kopyok kelililng. eeeeaaaaaaa........ pas banget karo hawane (bathinku)..... sebelum aku nawari istriku, ternyata dia sudah duluan, "mie kopyok enak nih mas". lha iyes lah tanpa pikir panjang aku lari keluar.

Begitu sampai diluar, nampaklah penjual mie kopyok. orangnya tua dagangannya dipikul pula nampak istirahat dibawah pohon kelengkeng depan rumah, wah pas banget, karo nulung (sambil menolong) pikirku kala itu... mulia sekali hahahaha... tak berapa lama istriku menyusul keluar rumah sambil membawa dua buah piring. sambil omong, dua saja mas, "mama gak mau kok". oke aku langsung pesan ke bapaknya, "pak nyuwun kalih pak" (pak minta dua). langsunglah dibikinkan dua porsi mie kopyok.

Setelah beberapa saat mie kopyok selesai dibuat. lantas sesi membayar tiba, aku bertanya "pinten pak?" (berapa pak). tanyaku. dijawab bapaknya "Rp.15.000", deg!!! dladuk larange... (mahal) pikirku karena dikantong cuma bawa uang 10.000 haha... tapi wajarlah mie kopyok kala itu masih 3.500 per porsi, lha ini malah dua kali lipat. ah gak papa mungkin bapaknya salah hitung, tak tanya sekali lagi untuk memastikan, "pinten pak?" dia jawab "15.000", wo yo tenan iki regane.. (beneran harganya). okelah tidak apa apa. aku masuk ambil kekurangan buat bayar. sampai disitu aku masih santai saja.

Sampai didalam rumah ditanya mertua, "piro le?" kujawab "15.000 mah" jawabku. "wah.. larange....." (mahal sekali). biasalah emak emak, tapi memang mahal sih.. dan aku mencoba menenangkan, "biarlah mah.. wong sudah tua, biar laku dagangannya. sambil menolong juga" tapi sedetik kemudian ucapan yang aku keluarkan seakan membantah sendiri dan mengatakan "jujur saja ko, ini harga terlalu mahal". hal itu terjadi sedetik setelah aku menyeruput kuah mienya... sruuupuuut...... deg!!!!!!!! bajinguk!!!!!! rasane koyo uyuh jaran (kencing kuda). ini bukan berarti aku pernah menyeruput kencing kuda lho ya.. walau hanya dalam khayalanpun tidaaaaaakkkkkkk..... hahahaha. mienya gak enak.... harganya mahal... kapoookkkkk!!!!!

Mertua dan istriku sekarang yang giliran menghiburku, "wis mas dipangan wae, wis kadung dituku kok", (sudah terlanjur dibeli ). sambil ngomel kaya wiridan itu mie uyuh jaran aku makan walau gak sampai habis. Hari minggu berikutnya, siang siang juga bapak penjual mie itu lewat lagi dengan lebih rajin memukul piring menjajakan dagangannya, dalam pikiranku "tutuken nganti pecah pak piringmu, aku rabakal tuku meneh!!!!" 

itulah ceritanya, bagi sebagian orang mungkin tidak masalah keluar uang banyak, intinya ada harga ada rupa. asal enak mungkin layak lah dibayar segitu, yah pembelajaran untuk diri sendiri, seandainya nanti berjualan, konsumen adalah mitra kita. kita jaga supaya tidak kapok, karena ditangan mereka pula rejeki kita.

dalam segala hal, Menjual, memberi, melayani adalah kewajiban dari penjual barang atau jasa, sementara hak dari konsumen adalah kepuasan, nantinya dia (konsumen) akan kembali membawa massa, lewat cerita sehingga rejeki kita tetap lancar, jangan berpikir untung besar hanya saat ini saja, kedepannya rugi terus. lebih baik untung yang cukup tapi pendapatannya tetap bahkan meningkat setiap harinya. semoga bermanfaat..


ditulis saat berpikir untuk memulai bisnis sendiri...


Jumat, 13 Juni 2014

Menu Tanggal Tua

Waktu itu hari masih gelap, tiba-tiba mata ini melek karena musholla dekat kost sudah mulai mengumandangkan azan subuh, kepala masih pusing melek juga masih setengah dan mengumpulkan segenap nyawa yang terserak untuk menjadi utuh dan bangun melaksanakan sholat subuh. Akhirnya aku gregah bangun... dan aktifitas dipindahkan kekamar mandi, dengan membuka keran air, pipis,  kumur kumur tanpa sikat gigi, cuci muka dan dilanjutkan dengan wudhu untuk sholat. (walau bejat isih eling sholat nda.. haha). dasar pemalas sudah wudhu tidak jamaah dimasjid, tapi malah sholat di kost kemudian tidur lagi.. wong itu hari sabtu kok, akhir bulan tanggal tua belum gajian, uang pas pasan dan kantor libur, akhirnya habis sholat ya tidur... zzzzzzzz.......

Lagi enak-enak tidur tiba tiba hape berdering "kriiiinggggg..... kring....!!!!." (koyo jam beker wae),  siapa to ini telpon kok pagi pagi orang lagi libur juga gerutuku dalam hati. setelah tak tengok weee lhadalah!!! bojoku nelpon (istriku nelpon). untuk urusan ini apalagi istri nelpon aku langsung siap siaga. lah.. kan aku dijakarta kost sendiri anak istri disemarang, jadi kalo istri nelpon harus diangkat, takut dimarahin hehehe... walau masih ngantuk suara di jernih jernihkan, langsung ku terima telponnya, "assalamu'alaikum..." diseberang dijawab suara lembut istri cantikku "wa'alaikumsalam... lagi apa bi?" pertanyaan sederhana yang selalu terasa menyiksa sepanjang masa. kalau gak percaya hayo silakan punya istri, dan yang pacaran pasti tau rasanya haha..

Mau tak jawab lagi terima telpon mi... mesti istriku ngamuk hahaha.. akhirnya tak jawab "um.. anu mi ini habis beraktifitas biasa saja mumpung libur". sungkan mosok mau dijawab lagi bangun tidur padahal sudah siang, kan aktifitas hari libur juga tidur toh hehe,,, lantas istriku bertanya lagi "sudah maem bi?" tak jawab "sudah" padahal kan tidur, mana mungkin sarapan. yah biar orang rumah tenang saja. eh ternyata pertanyaannya masih dilanjutkan "makan apa bi?", dlogok langsung saja tak jawab "um.. soto koya". terus istriku melanjutkan pertanyaan "dimana bi?", wah iki wong wedok opo detektif to iki.... dikejar terus seakan akan aku adalah teroris yang harus diinterogasi hahaaha.... ampun umi... ini hanya tulisan diblog saja.

singkat cerita telepon ditutup berakhirlah acara telephon telephonan dengan istri tercinta, hehe.. Setelah selesai telphon rencana mau merem lagi, lhah ternyata perutku langsung bunyi kriiuk... jiancok ngeleh aku nda... yah, aku lapar ternyata jam sudah menunjukkan pukul 10 siang, wee.... mau keluar males juga, dikost aku masih inget ada indomie rasa soto, kebetulan aku punya kompor listrik dan panci, langsung deh masak itu indomie, tapi bukan mie laknat yang aku ceritakan sebelumnya, karena mie laknat itu adalah indomie mie keriting ayam spesial haha... akhirnya pagi menuju siang itu aku sarapan indomie soto ayam. hasyek!!!!
 
Ilustrasi mie rebus soto koya. sumber google.com

Siang jam 14.00 atau jam dua siang hape berbunyi lagi, dan yang telephon istri lagi, pertanyaannya pun masih sama mengenai lagu pramuka "sedang apa bi?" wis wis dlogok tenan, setelah itu dilanjut dengan pertanyaan sudah maem?, maem apa?, dimana?, semalam berbuat apa?, dengan siapa? Yolanda..... hahaha dlewer meneh. tapi memang sebenarnya jam segitu mulai lapar sih, wong tadi cuma makan indomie soto saja kok. Entah kenapa hari itu aku males juga untuk keluar karena nengok stok laci masih ada indomie rebus ayam spesial, tidak ada mie laknat pokoknya, jadilah makan siang itu adalah indomie rebus ayam spesial, yah.. cukuplah mengganjal perut.

sekitar jam delapan malam aku lapar lagi, kali ini tidak ditelepon istri lho... nanti pada mikir kalau ditelepon istri membuat lapar, iya sih lapar belaian wakaka... dan lagi lagi males keluar lho dihari itu, mungkin karena stok mie instantku masih banyak, sebagai anak kost harus sedia itu... kali ini kumasak mie sedap rasa rendang. lumayan tidak kelaparan hari itu.

setelah selesai makan aku duduk duduk di depan sama teman kost, dia tanya "sudah makan ko?". kujawab "sudah bang". temenku ini memandangku seakan tak percaya, lalu bertanya "makan apa kau seharian tak ku lihat keluar kamar hari ini". dengan tenang ku jawab "serius bang aku hari ini makan tiga kali". masih tak percaya terus ditanya lagi, "apa saja kau makan hari ini?" lagi-lagi dengan tenang kujawab, "biasa bang menu tanggal tua, pagi sarapan soto, siang makan ayam, malam makan rendang bang...". dia lantas memujiku, "wah hebat sekali kamu ini ko, tanggal tua masih bisa makan mewah". aku tersenyum dan kulanjutkan, "iya bang.. tapi semua dalam bentuk mie". teman kostku langsung nyengir dan bilang "dasar tai kuda". hahaha....

sing penting hore!!!!

Kamis, 12 Juni 2014

Tragedi Lombok Hijau

Lombok hijau, atau cabe hijau adalah jenis buah yang masuk dalam kelompok sayuran, seperti halnya buah tomat. lombok hijau sebenarnya adalah lombok merah namun masih muda namun sudah dipetik untuk dijadikan bumbu masakan untuk menambah pedas masakan, karena masih muda maka pedasnya pun tidak begitu tajam jika dibandingkan dengan yang sudah merah atau tua.

Sebenarnya cerita ini tidak ada sangkut pautnya dengan definisi dan asal usul tentang lombok ijo tersebut, lha namanya saja narasi toh, waton gambleh... biar tulisannya kelihatan penuh, dan seperti ahli penulis yang sudah malang melintang didunia persilatan tulis menulis.

Ilustrasi gambar lombok ijo bagi yang belum pernah melihat.
Sebenarnya cerita ini sudah sangat basi, wis ra-anget, agak berjamur juga karena kejadian ini terjadi di tahun 2010 ketika awal menikah dulu, tapi kenangan itu sungguh sangat sayang untuk dilupakan, soalnya kenangan berantem  karena hal konyol dengan sang pujaan hati yang telah kuikat dengan janji suci dalam sebuah ikatan pernikahan yang tertuang pula dengan surat nikah resmi dari kantor urusan negara RI halah.... dlewer meneh nganti mbleber rakaru karuan.. hahaha...

Saat itu seingatku mertua lagi pergi ke kartosuro, kami (aku dan istriku yang syah) haha... ditinggal sendirian dirumah, sepulang dari kerja kami langsung mandi, rencananya mau langsung keluar cari makan, wong tidak ada makanan dirumah, dan lagi males masak (tidak mahir masak tepatnya). Tapi apalah daya saat itu hujan tiba tiba mengguyur kota semarang, disertai dengan petir menggelegar, istriku langsung memelukku dan bilang, "aku takut mas..." tak jawab, "ora popo dik", romantis... kan pengantin baru.. hahaha...
wis ah dlewer meneh mengko.

Kembali kecerita lagi, (benang merah). karena hujan maka kami terpaksa tidak jadi keluar rumah untuk mencari makan, tetapi karena perut lapar akhirnya keluar ide buat masak juga, jadilah bongkar bongkar lemari dapur dan akhirnya kami menemukan makanan laknat pembuat tragedi ini, dialah indomie mie keriting goreng spesial. yakin ora bakal mangan mie kui meneh, nyicipi wae lah sitik hahaha...
Mie Laknat..

Bagaimana aku tidak menyebut ini mie Laknat, gara gara mie ini aku sebagai pengantin baru berantem kok. Setelah menemukan mie ini lantas kami sok romantis. aku bilang "dik mie ini hanya satu, ayo kita masak sepiring berdua", istriku menjawab "iya mas...."


Mulailah kami memasak mie dengan bagi tugas, istriku menghidupkan kompor aku yang mengambil air digentong dan ditaruh dipanci, kemudian diletakkan dikompor yang dihidupkan oleh istriku. sampai sesi ini masih romantis dan penuh perhatian, mesra walau dibuat agak wagu dan sedikit berlebihan. meneh meneh kan manten anyar to nda...

Sambil menunggu air mendidih mulai aku membuka buka kulkas, siapa tau ada bahan sayuran bisa buat penyanding mie, dan kami menemukan telur ayam serta sayuran antara lain Onclang (daun bawang), Brambang (bawang merah), Bawang Putih, Cabe Hijau. nah inilah aktor utama kita dicerita ini, sang CABE HIJAU sebagai biang kerok.... (jreeeengg....).

karena takut istriku keperang (kena pisau) akulah tampil sebagai ksatria pemegang pisau dapur untuk mengiris iris hatimu (halah..). utk mengiris sayuran. sayuran pertama yang tak potong adalah onclang atau daun bawnag, istriku bilang "yang banyak mas aku suka.."  "oke...." jawabku. Selesai sudah Seikat onclang jadi korban pisau dapur, terus bawang merah dan bawang putih cuma dua siung selesai di cincang.

Tibalah giliran sicabai hijau untuk dicincang kali ini, sang cabai hijau ini kelihatan segar, mulus dan ranum.. aku ingat ada lima buah cabe ijo segar dikulkas semuanya merayu dan menyebar fitnah ke dalam pikiranku, "ayo mas potong kami semua kami tidak pedas loh, kami masih hijau masih segar mas..." dan ternyata aku tergoda untuk memotong lima cabe itu. satu cabe selesai aku potong... aman... cabe kedua juga selesai,... aman.. cabe ketiga dengan cepat selesai pula aku potong. dan giliran cabe keempat....

"Stop!!!!" istriku ngomong, "mas cabenya jangan banyak banyak nati pedes", dasar aku yang sudah kerasukan fitnah sang cabe lantas aku ngomong, "gak dek ini cabe hijau gak pedes", istriku ngeyel dan bilang "ini pedes kemarin make dua saja aku kepedesen, ini mosok lima". tak jawab "ya.. nanti kalau pedes aku yang makan".

Tiba tiba tanpa banyak omong, istriku langsung masuk kamar dan dikunci klek!!! hajinguk, ciloko iki.. pikirku wah gak dapet jatah malam ini hahaha... aku jadi bingung ada yang salahkah ucapanku???? tapi aku terus masak itu mie sambil berpikir ada apa ya ini. selesai masak aku ketuk pintu, tok tok tok... bu Joko Punya es? "dek.. miene wis mateng maem ora???" (dek mienya udah matang makan tidak?), langsung dijawab "ORA!!!" (tidak!!!). wah tenanan (beneran) ini pikirku, tapi dengan jurus rayuan maut yang aku pelajari dari eyang sinto gendeng digunung gede akhirnya aku dapat meluluhkan hati istriku yang akhirnya berujung dengan dibukanya pintu kamar.

setelah duduk didepan meja makan tak tanya, "kenapa to dek?" dia jawab, "wong laper kok mau dimakan sendiri mienya", lha deg!!! hajinguk, jawabanku saat ngiris cabe tadi dikira mienya mau tak makan sendiri, langsung tak jelasin to... "dek yang mau tak makan itu cabenya, mienya buat kamu semua gak apa-apa". sesaat istriku bengong, tapi sesaat kemudian kami tertawa bersama HAHAHAHA....

Itulah cerita tentang mie goreng laknat dan cabe hijau, lucu po ra??? ora yo wis sik penting dah tak tulis denga hati iklas, tulus dan ceria setia setiap saat koyo rexona.

Pesan moral : ternyata perut lapar bisa membuat orang yang sedang jatuh cinta sekalipun tidak bisa berpikir cepat, dan itulah pertengkaran kami yang konyol bermula dari lombok ijo. Lombok ijo lombok ijo... dlogok tenan.

Rabu, 11 Juni 2014

Piknik Ke kali

Piknik....
yah kata ini sangat familier, dan yang kita bayangkan tentunya ketempat obyek wisata yang disitu ada taman hiburan, para penjual jajanan makan khas, dikunjungi banyak orang, wis pokoknya ketempat keramaian lah, kalau kurang puas dengan penjelasan saya silahkan googling arti kata "piknik". haha... pede timen koyo blog-e akeh sik moco..

Tapi kok judulnya piknik ke Kali.. waduh, kali itu bahasa jawa, dalam bahasa indonesia artinya sungai. Piknik kok kekali atau sungai, yah daripada hanya main dikali kan kurang keren juga, makanya tak pilih kata piknik, biar sungai itu menjadi tempat wisata, kalau kita sudah berfikir kali itu adalah tempat wisata maka kali akan menjadi tempat wisata yang akan kita jaga dan kelola sebagi bagian tempat yang layak dikunjungi. (halah ko... ngomongmu keduwuren koyo aktifis lingkungan wae.. dlogok!!!).

Piknik saya ini mengajak anak dan istri serta satu keponakan saya Najwa, piknik ini dilaksanakan di sebuah sungai besar yang tanpa sengaja saya temukan (merasa seperti penjelajah) di daerah limbangan kabupaten kendal, sungainya lumayan besar, lebar mungkin sekitar 20m, banyak batuan disana, ada juga jeram dari dam kecil yang dibangun pemerintah. airnya lumayan jernih, mungkin kalau musim kemarau lebih jernih lagi. kalau mau mencari kali ini, pengunjung (cie.. pengunjung, lha tempat wisata kok) bisa mengambil arah dari Boja kabupaten Kendal, atau dari Sumowono kabupaten Semarang. kalau dari boja langsung aja deh ambil jalan arah limbangan, ikuti jalan itu terus, nanti jalan itu menuju sumowono kabupaten semarang, nah nanti disitu ada pertigaan, lupa pertigaan keberapa lha saya nemu kali itu awalnya juga kesasar, jadi kalau ada yang baca blog saya ini dan ingin menuju kali ini coba cari saja, siapa tau juga kesasar dan menemukan kali yang lain hahaha... misal kesasar gak bisa balik yo urusanmu, memang aku mbokmu ngurusi kue po pye...

kali Limbangan (jenenge ngarang)

Ini dia penampakan kalinya, lumayanlah masih seger. ada jembatan besarnya dan banyak batuan, dikanan dan kiri sungai terdapat sawah, saat itu banyak anak mencari belut juga sayang rasempet foto anak anak yang mencari belut di sawah.

Ketika turun masuk kekali, clup..... kaki langsung merasakan dinginnya air sungai, sungai ini saya yakin berhulu di gunung Ungaran kabupaten Semarang, karena limbangan kan memang deket gunung ungaran. pas turun sudah siap jaring juga, ternyata banyak udang sungai dan wader (ikan kecil) kali. sayang saya hanya mampu menangkap udang kali, dan itu pun hanya dua ekor, yah mending lah masih dapat udang.

Saya langsung teringat jaman kecil dulu suka main juga disungai kan sebelah rumah juga sungai, sayang sekarang lebih bisa disebut got, karena memang sudah sangat tercemar, makanya begitu melihat sungai besar, langsung membayangkan jaman tempo dulu. dan dalam pikiran saya mungkin juga anak anak bisa saya kenalkan alam lebih dini, soalnya mengenal alam nantinya mereka akan mencintai alam ini. (sok bijak sitik, lha kan wis orang tua to due anak).

Ini Sedikit Photo photo piknik dadakan karena kesasar. (piknik kali limbangan 25 Mei 2014)

walau seederhana yang penting gembira
Nayato dan Najwa
 
Istriku yang nrimo wae diajak piknik ke kali haha..

Singkat cerita, saya sekeluarga akhirnya piknik disungai ini, biasalah.. namanya orang piknik ya tetep saja narsis, photo photonan disungai ini. 
Walau piknik dikali, yang penting happy... walau dalam hati berkata... sory yo le.. abimu nembe iso ngajak piknik ke kali.... # trenyuh



Selasa, 10 Juni 2014

Komentator

Judulnya sangar, Komentator nda....

Komentator, itulah gelar yang disematkan kepada orang yang suka berkomentar, ngomentari apa saja, baik itu di acara resmi atau acara semi resmi, atau acara tongkrongan biasa dimanapun tempatnya, orang yang berkomentar itu disebut komentator. #definisikudewe. wis pokoe manut wae wong kari moco rasah protes. (sopo sing arep moco tulisanmu to ko???). haha...

 

dijaman sekarang ini, terutama dimedia elektronik, orang bebas berkomentar, jaman biyen di dorr ke.. jarene.#enakjamanku. tidak usah bahas jaman dulu lah, jaman sekarang saja. orang sangat bebas jeplak, malah banyak komentar yang sifatnya itu semaunya sendiri, orang bebas mengomentari apa saja sesuai kehendaknya. jenengane wae komentar, jamane bebas jeplak. congor congorku dewe. jeplak sak karepku ramasalah. 

 

sumber google.com

Tapi yang jadi masalah disini adalah, seorang yang komentar biasanya sak penak udele dewe. sering saya melihat membaca artikel atau berita, terus dibawahnya itu yang komentar seperti lebih pandai dari penulis atau narasumbernya. yen wis ngritik koyone jagoan.

 

Apalagi jaman pemilihan presiden seperti saat sekarang.. orang gampang banget membully, mencaci, memfitnah, diotaknya yang paling josh calon presidenku calon lain mbelgedhes. banyak banget komentator dadakan, pakar dadakan. semuanya mengaku pintar. kalau udah membully semangat. kalau komentarnya dibalas, tambah emosi. yen cedak aku wis tak sumpel tungkak tenan congore haha... 

 

Memang mudah untuk menjadi komentator, asal bisa ngomomentari sesuatu anda sudah resmi menjadi komentator. tanpa harus sekolah, asal bacot pinter wae. Tapi yang terpenting dari menjadi komentator adalah pikirkan dulu komentar apa yang akan kita keluarkan. njeplak ojo waton jeplak, nanging njeplak sing nganggo waton. lebih baik diam tapi mikir, daripada banyak bicara tanpa mikir.

 

wis pokoknya menjadi komentator itu gampang, tapi bijaklah dalam berkomentar.

salam semarangan. pertamakali menulis sejak sekian lama dijakarta.